publiknesia.com – Urtikaria atau penyakit biduran adalah gatal-gatal berupa bentol atau ruam pada kulit karena alergen.

Melansir Web MD, reaksi alergi dari paparan alergen bisa terjadi saat tubuh melepaskan protein histamin.

Saat histamin keluar, pembuluh darah kapiler ikut mengeluarkan cairan. Penumpukan cairan di kulit ini menyebabkan ruam atau bentol-bentol.

Satu dari lima orang pernah mengalami biduran sepanjang hidupnya. Penyakit karena alergi ini tidak menular.

Penyebab biduran

Melansir Medical News Today, alergi biduran bisa terjadi karena berbagai sebab.

Umumnya, biduran disebabkan alergi makanan tertentu, sengatan serangga, paparan sinar matahari, udara dingin, sampai efek samping obat.

Secara spesifik, penyebab biduran bisa dibedakan berdasarkan jenisnya, yakni:

  • Biduran akut

Biduran ini berlangsung kurang dari enam minggu. Penyebabnya bisa karena alergi kacang-kacangan, cokelat, ikan, tomat, telur, susu, obat, dan infeksi.

  • Biduran kronis

Biduran ini terjadi lebih dari enam minggu. Penyebabnya karena gangguan tiroid, hepatitis, infeksi, sampai kanker. Alergi ini bisa memengaruhi organ dalam seperti paru, otot, dan saluran pernapasan.

  • Biduran fisik

Biduran ini disebabkan stimulasi fisik pada kulit misalkan panas, dingin, getaran, tekanan, keringat, dll. Reaksi alergi ini bisa muncul selang satu jam dari paparan alergen.

Cara mengatasi biduran

Cara mengobati biduran agar tak kambuh lagi bisa dilakukan dengan menghilangkan pemicu atau alergennya.

Ada beberapa cara sederhana untuk menghilangkan bengkak dan ruam karena biduran, di antaranya:

  1. Kompres biduran dengan kain basah atau kompresan dingin
  2. Kenakan pakaian yang longgar
  3. Hindari beraktivitas di tempat yang memicu alergi misalkan panas atau dingin

Apabila beberapa cara sederhana mengatasi biduran tidak membantu, coba berkonsultasi ke dokter.

Terutama jika biduran disertai gejala pusing, sesak napas, dan ada pembengkakan di lidah dan wajah.

Dokter umumnya memberikan obat biduran antihistamin untuk mencegah reaksi alergi.

Ketika antihistamin tidak mempan, dokter jamak meresepkan obat kortikosteroid, kortison, sampai adrenalin.