publiknesia.com – Beredar unggahan di media sosial terkait pencopotan spanduk ataupun baliho Babi Guling di Bali oleh aparat jelang bergulirnya event G20 pada November mendatang.

Netizen di Bali pun merespons dengan banyak diantara mereka yang nyinyir karena mencopot baliho ataupun spanduk warga yang menjual babi guling .

Netizen membandingkan dengan baliho ataupun spanduk para pejabat ataupun politisi yang terpampang di sejumlah tempat.

Terkait hal ini, Anggota DPD RI Provinsi Bali , I Gusti Ngurah Arya Wedakarna angkat suara. Ia berpendapat kalau kejadian itu terjadi karena adanya oknum pejabat pusat tidak suka dengan Bali .

Kemungkinan kedua, sambung Arya Wedakarna , karena pejabat di Bali yang sedang cari panggung dengan mencari muka ke pemerintah pusat.

Sebelum menyampaikan hal tersebut, mulanya, Arya Wedakarna menyampaikan dukungan terkait tata kota di Bali yang bersolek jelang event G20

“Pertama, mendukung langkah pemerintah untuk merapikan tata kota untuk melaksanakan PKM di tiga kecamatan yaitu Kuta, Kuta Utara, Kuta Selatan selama masa G20 ,” kata Arya melalui akun media sosialnya yang diunggah pada Sabtu, 29 Oktober 2022.

“Karena bagaiamana pun juga, keamanan dan keselamatan delegasi dunia, penguasa 80 persen ekonomi dunia di Pulau Dewata, harus kita jaga bersama-sama, setidaknya dari urusan sudut pandang keamanan,” ujarnya

Barulah kemudian ia menyinggung soal pencopotan baliho ataupun spanduk babi guling oleh aparat. Menurutnya itu bukanlah instruksi langsung dari kepala negara dalam hal ini Presiden Jokowi.

“Bapak Presiden Jokowi yang menang 92 persen di Bali , Pak Jokowi yang dicintai oleh umat Hindu sepertinya tidak ada instruksi seperti itu

“Dari DPD RI, saya sebagai pejabat negara juga enggak ada yang namanya harus merubah apapun sumber kehidupan masyarakat yang di mana banyak masyarakat badung niki yang berjualan juga dari ajengan babi guling , ajengan babi genyol, tidak ada larangan sama sekali,” ujarnya

Ia mencurigai adanya ada dua kemungkinan. Pertama ada pejabat di pusat yang selama ini dari awal track recordnya anti terhadap Bali .

Baca Juga: Izin Konser Berdendang Bergoyang Dicabut, Polisi Periksa Penanggung Jawab Acara

“Ya kalau bisa dibilang, mereka tidak suka. Ya saya tahu pejabat-pejabat itu siapa. Apakah aparat keamanan lokal termasuk pejabat lokalan di Bali ini mendapatkan tekanan dari pusat untuk memberangus baliho – baliho dan spanduk babi guling ,” katanya.

Yang kedua kemungkinannya adalah ada pejabat-pejabat lokal di Bali yang ingin cari muka dengan pejabat pusat. Menurutnya hal ini ini berbahaya.

“Jadi tampilkanlah Bali apa adanya. Saya kira 20 pemimpin negara itu sudah tahu kok bahwa Bali ini adalah satu-satunya pulai yang mayoritas penduduknya beragama Hindu,” ujar Arya.

“Dan apalagi dari 20 delegasi negara itu, mereka bawa anak buah semua, bawa menteri bawa staf, bawa delegasi yang mungkin akan berwisata…. Jadi kenapa harus khawatir,” katanya melanjutkan.

Arya berencana akan mengirimkan surat protes kepada panitia G20 dan meminta agar Bali ditampilkan apa adanya.

“Tolonglah nike, pejabat-pejabat di kelurahan, kepala desa, kecamatan, kabupaten, provinsi, kalau ada yang minta aneh-aneh untuk Bali , syarat-syarat aneh nike lebih baik ditolak saja,” katanya.***