publiknesia.com – Di media ini, Mati Greenspan, analis Senior dari eToro pernah menyebutkan bahwa secara fundamental Bitcoin masih sangat kuat. Ia mengacu pada dua aspek utama di Blockchain Bitcoin, yakni peningkatan hash rate, transaksi dan jumlah wallet Bitcoin. Istilah ini mungkin membingungkan bagi sebagian orang, khususnya yang baru masuk ke ranah Bitcoin ini. Lantas, apakah hash rate memiliki hubungan erat dengan kenaikan harga Bitcoin sejak awal 2019 ini?

Hash rate terkait erat dengan proses penambangan (mining) di Blockchain Bitcoin, untuk menentukan kecepatan komputasi dalam menyelesaikan satu operasi perhitungan pada kode Bitcoin. Semakin tinggi hash rate pada proses penambangan, maka peluang untuk memvalidasi dan memverifikasi block transaksi berikutnya akan semakin besar pula.

Dengan kata lain, semakin besar hash rate, maka miner berpeluang lebih besar untuk mendapatkan imbalan Bitcoin yang baru. Hash rate juga bisa sebagai penanda semakin banyaknya jumlah miner yang berpartisipasi di Blockchain Bitcoin.

Perumpamaan sederhana lainnya adalah, ketika peminat Bitcoin semakin meningkat, karena harga sudah sangat murah, maka mendorong penambang untuk menyediakan suplainya ke pasar.

Ingat, Bitcoin yang baru tercipta setiap 10 menit dengan besaran 12,5 BTC dan ini diperebutkan oleh ribuan miner di seluruh dunia. Semakin tinggi spesifikasi komputasi yang digunakan oleh miner, maka semakin besar peluangnya mendapatkan imbalan Bitcoin yang baru termasuk fee transaksi. Namun, 12,5 BTC itu akan berkurang separuh setiap 4 tahun sekali yang dikenal dengan sebutan Block Reward Halving (BRH).

BRH berikutnya diperkirakan akan jatuh pada Mei/Juni 2020. Akibatnya, Bitcoin akan semakin langka di pasar menjadi hanya 6,25 BTC per 10 menit. Artinya, ketika pembelian terhadap Bitcoin stabil ataupun meningkat, lalu adopsinya meluas, maka harganya di masa mendatang menjadi lebih mahal dibandingkan hari ini.

Lantas, apakah ada korelasi langsung antara hash rate ini dengan kenaikan harga Bitcoin? Jawabannya bisa ya, bisa pula tidak. Tetapi, setelah 15 Desember 2018 silam, ketika harga Bitcoin berada di kisaran US$3.100 ($43,7 juta), hash rate di Blockchain Bitcoin justru menunjukkan peningkatan. Pada 31 Desember 2018 misalnya, hash rate-nya mencapai 43,2 juta Tera Hash per detik.

Dibandingkan pada 15 Desember 2018, hash rate baru 41,8 juta Tera Hash per detik. Besaran hash rate itu terus naik hingga 24 Juni 2019, 65,1 juta Tera Hash per detik dengan harga Bitcoin menyentuh Rp158 juta. Kenaikannya hash rate-nya sekitar 55.7 persen. Besaran hash rate hari ini pun sudah melampaui hash rate pada 25 September 2018 (60 juta Tera Hash per detik).

Memang menjadi penambang Bitcoin itu nikmat, karena sejatinya mereka adalah “penyalur asli” Bitcoin ke dalam pasar. Namun, untuk menjadi penambang bercuan besar, perlu modal yang tidak kecil. Sebab harus menyediakan perangkat keras mining dalam jumlah banyak dan harganya tidak murah. Terlebih-lebih biaya listrik, sebagai faktor pengeluaran terbesar, yang harus bisa ditekan sekecil mungkin. [red]

blockchainmedia.id.