publiknesia.com – Pernahkah Mama mendengar penyakit atresia bilier? Atresia bilier adalah penyakit langka pada saluran empedu dan diketahui hanya menyerang pada bayi.

Sebagai informasi, saluran empedu sendiri merupakan jalur di dalam tubuh yang membawa cairan pencernaan yang disebut empedu dari hati ke usus kecil.

Kemudian, cairan empedu nantinya akan memecah lemak dan menyerap vitamin yang menyaring limbah dari tubuh si Kecil. Akibatnya, saluran ini pun menjadi bengkak dan tersumbat.

Empedu terperangkap di hati dan mulai menghancurkan sel. Seiring berjalannya waktu, hati anak pun bisa mengalami luka atau disebut sirosis yang akhirnya tidak bisa menyaring limbah atau racun dalam tubuh sebagaimana mestinya.

Untuk mengetahui lebih lanjut apa itu penyakit atresia bilier yang terjadi pada anak, berikut telah merangkum dari berbagai sumber informasi selengkapnya.

1. Penyebab atresia bilier

Sebagai salah satu penyakit langka yang menyerang anak, penyakit ini diketahui bukanlah penyakit menular atau penyakit yang menurun.

Namun, sampai saat ini penyebab pasti dari penyakit atresia bilier masih belum diketahui. Meski demikian, inilah beberapa kemungkinan yang dikaitkan terjadinya penyakit tersebut:

Beberapa bayi yang mengalami atresia bilier ditemukan sudah mengidap penyakit langka ini sejak dalam rahim, tetapi paling sering ditemukan gejalanya ketika usia si Kecil memasuki 2 hingga 4 minggu setelah dilahirkan.

2. Gejala atresia bilier

Di bentuk perinatal atau waktu di sekitar kelahiran atau proses kelahiran, biasanya gejala yang ditimbulkan baru terdeteksi saat anak dilahirkan atau sebelum usianya 2 minggu.

Namun, pada bentuk postnatal atau setelah dilahirkan, gejalanya baru akan timbul di usia 2 sampai 8 minggu. Berikut beberapa gejala dari atresia bilier yang mungkin dialami oleh si Kecil:

Kondisi ini disebabkan adanya penumpukan pada bilirubin (produk pemecahan dari hemoglobin) dalam darah. Bilirubin kemudian akan disaring oleh ginjal dan dikeluarkan melalui air kencing atau urin.

Pewarna empedu atau bilirubin yang dikosongkan ke dalam usus kemudian membuat empedu tidak memberi warna pada fases yang dikeluarkan.

Bayi yang mengalami penyakit kuning terjadi karena meningkatnya bilirubin (pigmen empedu) yang sangat tinggi dalam aliran darah. Biasanya terjadi pada bayi yang baru lahir karena hati yang belum matang. Awalnya anak dengan penyakit atresia bilier akan tampak normal ketika dilahirkan, namun nantinya bisa mengalami perubahan warna dalam kurun waktu dua sampai tiga minggu setelah lahir.

Ketika tingkat penyakit kuning meningkat, serta si Kecil mulai menjadi lebih rewel dari baisanya, kondisi ini akan memberikan kondisi pada berat badannya atau bayi bisa mengalami penurunan berat badan.

3. Pengobatan atresia bilier

Menurut The National Library of Medicine, pembedahan adalah satu-satunya metode untuk mendiagnosis dan mengobati atresia bilier.

Beberapa obat dan vitamin juga digunakan sebagai tambahan setelah operasi dilakukan.

Selain itu, transplantasi hati juga bisa menjadi pertimbangan yang akan dilakukan untuk anak atresia bilier dengan kerusakan hati yang parah. Hal ini tentu membutuhkan biaya yang tak sedikit, Ma.

Sebagai bentuk rasa kepedulian terhadap orangtua yang sedang berjuang mendampingi anaknya di Rumah Singgah Yayasan Rumah Satu Hati, Nia Baby sebagai salah satu brand produk perlengkapan bayi di Indonesia turut serta membantu meringankan beban para Mama di Rumah Singgah Yayasan Rumah Satu Hati.

Melalui sebuah kampanye amal yang bertajuk “Nia Peduli”, Nia Baby bekerja sama dengan seluruh toko cabang untuk menyalurkan bantuan setiap bulannya pada berbagai tempat seperti rumah sakit, panti asuhan, panti jompo, dan yang terbaru adalah di Yayasan Rumah Satu Hati.

Program yang telah berlangsung semenjak tahun 2018 ini hadir demi membantu banyak masyarakat terutama Mama dan anak-anak yang masih memerlukan uluran bantuan demi kesembuhan buah hati tercinta.

“Saya berharap untuk anak-anak yang ada di Rumah Singgah ini maupun yang berada di luar Rumah Singgah, semoga bisa bertahan sampai mereka mendapatkan pengobatan yang optimal, orangtuanya juga tetap semangat,” ujar Tri, salah satu orangtua pasien bayi Fathonah di Rumah Singgah.

Tak hanya berupa materi yang disalurkan dari hasil penjualan produk di cabang Nia Baby, dukungan yang diberikan juga berupa dukungan mental. kata Heri selaku pengurus Rumah Singgah Yayasan Satu Hati menyebutkan bahwa tak mudah bagi orangtua menghadapi ini semua, sehingga saling menguatkan menjadi salah satu cara untuk mendukung orangtua dan anak yang mengidap atresia bilier.

Demikianlah informasi terkait penyakit atresia bilier yang perlu Mama dan Papa ketahui. Untuk mendapatkan diagnosis dan pengobatan yang tepat, pastikan untuk berkonsultasi dengan dokter terlebih dahulu ya, Ma.

Nantinya dokter juga akan membantu menyusun rencana makan khusus atau pemberian suplemen pendukung agar anak mendapatkan nutrisi dan kalori yang cukup demi tumbuh kembangnya.