publiknesia.com – Pemerintah AS, Kementerian Ketenagakerjaan Amerika Serikat mengkhawatirkan adanya bahaya terhadap keuangan warga AS atas rencana dana pensiun bernilai Bitcoin besutan Fidelity Investment. Hal itu disampaikan langsung oleh Ali Khawar, pejabat di kementerian itu.

Pemerintah AS Khawatir Bitcoin yang Spekulatif

“Kami menilai beberapa produk investasi bernilai kripto, seperti Bitcoin bisa menimbulkan dampak buruk bagi kondisi keuangan warga AS. Pasalnya harga kripto itu sangat spekulatif. Kami sangat prihatin,” katanya, dilansir dari Wall Street Journal, Kamis (28/4/2022).

Seperti diketahui sebelumnya, perusahaan keuangan raksasa asal Amerika Serikat, Fidelity Investment berencana meluncurkan produk investasi dana pensiun. Produk itu sebagian kecil bernilai Bitcoin.

Produk itu diperuntukkan bagi karyawan di perusahaan di AS yang berminat berinvestasi di Bitcoin, tanpa perlu membeli BTC asli. Produk itu dimasukkan dalam skema “401(k)”.

20 Persen Bernilai Bitcoin

Skema itu memungkinkan karyawan di AS menyisihkan sebagian dari gaji mereka setiap bulan untuk berinvestasi untuk dana pensiun mereka. Dana itu akan dicairkan ketika mereka sudah berhenti bekerja. Fidelity Investment menyarankan porsi 20 persen untuk Bitcoin dari total portofolio karyawan.

Raksasa Fidelity Tawarkan Investasi Bitcoin untuk Pensiun, MicroStrategy Sepakat Ikut Serta

Walaupun Ali Khawar mengakui pihaknya sudah mengetahui rencana peluncuran produk itu dan perusahaan MicroStrategy ikut mendukungnya, ia tetap bersikukuh, bahwa produk seperti itu, karena bernilai Bitcoin bisa membawa petaka pada nilai dana pensiun para karyawan.

Produk investasi jenis ini adalah kali pertama Amerika Serikat, termasuk di dunia. Rencana produk itu pun, Fidelity Investment bersandar pada sejumlah penelitian dan jajak pendapat kepada para investor, khususnya kepada perusahaan dan karyawan.

“Fidelity percaya bahwa teknologi blockchain dan aset kripto akan menjadi bagian yang jauh lebih besar daripada masa depan industri keuangan,” kata Dave Gray, Kepala Penawaran dan Platform Pensiun Fidelity, dilansir dari The New York Times, Selasa (26/4/2022).

Hasilnya adalah, minat untuk berinvestasi di kripto, khususnya Bitcoin, dianggap lebih prospektif untuk jangka panjang, dibandingkan dengan berinvestasi di saham, obligasi dan emas.

Asal tahu saja, Fidelity adalah perusahaan penyedia program dana pensiun nomor satu di AS. Raksasa investasi yang berbasis di Boston itu kini mengelola tabungan pensiun lebih dari 20 juta orang.

Sebelumnya, pada bulan lalu, Presiden Biden sudah menandatangani instruksi presiden (inpres) yang mengatur secara khusus soal kripto di negeri itu. Inpres yang dirancang oleh Kementerian Keuangan itu sejatinya, demi mengawasi lebih ketat soal transaksi kripto, termasuk mendukung inovasinya.

Sejak tahun 2021, beragam investasi bernilai kripto lahir di AS, di antaranya yang mencolok adalah ETF Bitcoin Berjangka yang diperdagangkan di bursa efek Nasdaq dan bursa efek New York. Dasar nilai ETF itu adalah produk Bitcoin berjangka di Chicago Mercantile Exchange yang diluncurkan pada Desember 2017 silam.

ETF Bitcoin Berjangka di AS, Ini Kelebihan dan Kekurangannya

Sejumlah perusahaan investasi ternama di AS saat ini berjuang agar ETF Bitcoin spot juga bisa masuk di pasar serupa, daripada sekadar bernilai dari pasar berjangka.

Dalam 5 tahun terakhir, imbal hasil Bitcoin tumbuh lebih dari 2300 persen. Sejumlah investor milenial meyakini, bahwa investasi kripto itu menarik dalam jangka panjang, bukan jangka pendek yang memang terkenal sangat volatil, karena berkorelasi positif dengan pasar tradisional. [ps]