publiknesia.com – JAKARTA – Transisi Ferrari dari mobil mesin konvensional (ICE – Internal Combustion Engine) ke elektrifikasi tampaknya berjalan dengan baik setelah supercar hybrid SF90 mulai diproduksi secara massal. Keputusan itu dianggap tepat karena Ferrari bakal menjadi salah satu pabrikan supercar yang mengikuti trend otomotif kekinian dan bisa menjadi mercusuar bagi pabrikan lainnya.Mengenai soal dirilisnya 296 GTB, Maranello membantah jika supercar plug-in hybrid itu merupakan pengganti F8 Tributo. Pasalnya, kedua mobil itu adalah makhluk yang berbeda.

Apakah Ferrari 296 GTB itu?

Berapa tenaga dan torsi yang bisa dihasilkan Ferrari 296 GTB?

Pabrikan mengklaim 296 GTB merupakan sports car hybrid mesin tengah generasi masa depan. Platformnya sama dengan coupe V8 mesin tengah Ferrari lainnya, tapi menjadi versi SF90 dengan bodi lebih ramping dan rasional yang mana SF 90 mengggunakan tiga motor listrik, dua di antaranya di roda depan.

Ferrari 296 GTB justru kembali pada konfigurasi penggerak roda belakang (RWD) tradisional dengan satu motor dan mesin konvensional V6 turbo terbaru. Layout mesin tersebut sama dengan jantung pacu SF90, tapi diperpendek dua silinder dan diharapkan bisa menggantikan kesuksesan V8 turbo yang dulu. Dikombinasikan dengan transmisi terbaru DCT F1 8 percepatan dengan gigi mundur yang sudah dikembangkan untuk transmisi jenis ini.

Mesin tersebut menghasilkan total tenaga 828 hp di mana 166 hp berasal dari motor listriknya dan 662 hp berasal dari mesin V6 turbonya. Positioning mesin V6nya 120 derajat, tidak seperti mesin balap Ferrari pada umumnya yang posisinya 60 atau 90 derajat. Sebagai perbandingan saja, mesin F8 Tributo memiliki sudut kemiringan 90 derajat dan hanya menghasilkan tenaga 718 hp. Makin besar sudutnya maka semakin rendah center of gravitynya sehingga mempermudah penempatan turbo di tengah-tengah mesin V-nya.

Lewat pembakaran yang merata, Ferrari mengoptimalkan harmonik ketiga dari saluran buang untuk menciptakan suara seperti mesin V12 tapi dengan oktaf yang lebih rendah. Memang suaranya tidak persis sama, hanya mendekati. Berkat resonator tabung panas yang mentransfer suara knalpot ke dalam kabin, bisa menciptakan sensasi tersendiri kepada pengemudi. Kalau saja tidak ada turbo dan filter khusus, mungkin warna nadanya akan lebih menyenangkan.

Kemampuan baterai Ferrari 296 GTB

Suara tersebut dihasilkan oleh mesin V6 turbo 3.0 liter, karena jika mesin hybridnya yang bekerja mobil akan terdengar senyap kecuali jika memakai suara sintetis (buatan). Terkesan aneh kalau kita mengemudikan Ferrari enggak ada suaranya.

Baterai yang dipakai cukup kecil cuma 7,5 kWh. Hanya cukup untuk ‘dipacu’ sejauh 25 kilometer kalau dikemudikannya seperti mengendarai mobil Toyota Prius. Tapi Kalau digeber seperti mengendarai Ferrari hanya kuat 10 sampai 15 km saja. Top speed yang dicapai jika pakai tenaga hybrid 135 km/jam, tapi tak akan bisa terlalu lama.

Emang enak kalau bawa Ferrari tanpa suara raungan seperti singa di dekat telinga? Emang Ferrari ada nilainya kalau tanpa suara? Ya enak-enak saja dan ada saja nilainya dalam kondisi tertentu. Pertama kalau tanpa suara, yang senang pasti tetangga karena tidak berisik. Yang kedua kalau wara-wiri di tengah kota, tidak akan menarik perhatian orang dari jauh.

Mungkin Anda beranggapan motor listriknya yang hanya memproduksi tenaga 165 hp terlalu kurus, tapi torsi ingat torsi yang dihasilkan besar, 315 Nm. Jadi dapat mengisi V6 turbonya di rpm rendah sehingga bisa terasa padat di setiap putaran.

Pada saat mode hybrid, super car akan memanfaatkan tenaga penggerak listrik sebanyak mungkin dan mesin ICE secara otomatis mati. Peralihan gerak ini sepenuhnya diatur oleh peranti yang disebut Transition Manager Actuator (TMA).

Apakah mesin V6 296 tersebut lebih bagus dari V8-nya F8 Tributo? Dalam hal suara yang dihasilkan, saya lebih suka versi natural aspirated. Tapi kalau ukurannya adalah apakah suaranya mirip dengan engine V8 turbo dan V12, saya agak setuju. Cuma menurut saya sih lebih cocok sebagai karakter mesin V6 yang baru.

Dalam hal tenaga yang dihasilkan, V6 turbo yang dipakai oleh 296 GTB bisa menjadi menjadi tolok ukur yang bagus. Feelnya mirip dengan mesin naturally aspirated. Menurut saya, kombinasi V6 turbo dengan hybridnya memberikan respon tenaga dan throttle yang luar biasa. Bahkan lebih baik dari V8.

Akselerasi 0 – 100 Km/Jam

Ada suara peluit yang keluar dari turbonya disertai dengan lonjakan tenaga tapi jadi terkontrol karena ada motor listrik yang terpasang. Tenaga yang dilontarkan jadi bisa disesuaikan dan diatur karena motor listrik secara spontan mengatur keluaran tenaga tadi melalui fitur elektronik bukan membatasi tenaga yang dikeluarkan.

Dalam kondisi ideal, sports car ini mampu melesat dari nol km/jam sampai 100 km/jam dalam waktu 2,9 detik sedangkan 0 – 200 km/jam dalam waktu 7,3 detik. Atau lebih kencang setengah detik dari F8 Tributo. Pada saat berakselerasi penuh, 296 GTB seperti menempel di aspal. Kemampuannya mengatur tenaga instan yang keluar tak diragukan lagi sehingga mobil menjadi lebih stabil dan menikung dengan lebih ‘sopan’. Ia tidak akan berperilaku liar saat masuk tikungan maupun keluar tikungan, namun kecepatannya tetap tinggi.

Setelan chassis yang lebih kaku dan wheelbase yang lebih pendek membuat 296 GTB lebih gesit dibandingkan F8. Terbantu pula oleh ban Michelin PS4S yang membalut keempat pelek rodanya sehingga mobil punya tenaga grip yang kuat. Khususnya grip bagian depan yang mengarahkan mobil memiliki tingkat kelincahan yang lebih baik dibandingkan Ferrari lainnya. (Bersambung…)

PENULIS: ANDRE LAM ALIH BAHASA: EKA ZULKARNAIN FOTO: FERRARI

carvaganza.com.