Festival Telaga Kabau Menuai Pro-Kontra, Pemerintah Diminta Perhatikan Adat Lokal

KEPULAUAN SULA – Rencana Pemerintah Desa Kabau Pantai dan Dinas Pariwisata Kabupaten Kepulauan Sula untuk menggelar Festival Telaga Kabau menuai pro-kontra.

Festival ini disoroti karena Telaga Kabau bukan sekadar destinasi wisata, melainkan juga tempat yang memiliki nilai adat dan sejarah sakral bagi masyarakat setempat.

Ecan Buamona, Ketua Pemuda Desa Kabau Pantai, mengungkapkan kekhawatiran terkait potensi pelanggaran adat. Menurutnya, telaga tersebut diyakini sebagai tempat leluhur yang menyimpan berbagai pantangan.

“Di sana ada tempat sakral seperti Baoa Mata, di mana konon terdapat masjid yang bisa muncul ke permukaan danau. Jika ada orang yang tidak sengaja melihatnya, mereka bisa jatuh sakit,” ujar Ecan pada Rabu (20/8/2025).

Ecan juga menyebutkan ada pantangan berupa ucapan tidak pantas atau gurauan yang bisa melanggar adat.

“Kejadian-kejadian aneh seperti jatuh sakit sudah berulang kali terjadi jika pantangan ini dilanggar,” tambahnya.

Ia mengingatkan bahwa festival akan mendatangkan banyak orang dari luar desa yang mungkin tidak tahu tentang aturan adat ini, sehingga dikhawatirkan dapat mengganggu para leluhur dan berpotensi menimbulkan musibah.

“Kami khawatir jika masyarakat dari luar tidak mengetahui larangan ini dan melanggarnya, akan terjadi hal-hal aneh seperti yang sudah sering terjadi,” pungkasnya.

Di akhir pernyataannya, Ecan juga menyoroti bahwa pemerintah desa sebaiknya lebih fokus pada pembangunan desa daripada memprioritaskan festival.

Sebagai informasi, Telaga Kabau baru saja dipromosikan sebagai destinasi wisata dan masuk dalam klasemen sementara Anugerah Pesona Indonesia (API) per 31 Juli 2025.(*)

Komentar