Kemenag Sula Ajak Masyarakat Waspadai Aliran Keagamaan Menyimpang

KEPULAUAN SULA – Maluku Utara – Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Kepulauan Sula mengimbau masyarakat untuk mewaspadai sejumlah aliran keagamaan yang dianggap menyimpang dari ajaran Islam arus utama.

Aliran-aliran ini berkembang pesat di wilayah Maluku Utara dan dinilai berpotensi menimbulkan kesalahpahaman serta konflik di tengah masyarakat.

Kepala Kemenag Kepulauan Sula, La Sengka La Dadu, menjelaskan bahwa beberapa aliran yang perlu diwaspadai antara lain Sia Jafaria, Silomata, Guru Baik, Mujahidin Indonesia, Islam Jama’ah, dan Ahmadiyah.

Menurut La Sengka, aliran-aliran tersebut menyebarkan pemahaman yang bertentangan dengan ajaran Islam pada umumnya.

“Ketika ajaran tersebut diteruskan ke masyarakat luas tanpa pemahaman yang benar, bisa menimbulkan kesalahpahaman dan konflik,” ujarnya usai acara pencegahan konflik paham keagamaan Islam, Jumat (1/8/2025).

La Sengka menambahkan, meskipun kelompok-kelompok ini masih mengidentifikasi diri sebagai bagian dari Islam, penafsiran dan praktik mereka dinilai berbeda. Pihak Kemenag terus berupaya melakukan pendekatan dan pembinaan, meski kerap menghadapi tantangan karena sifat kelompok-kelompok yang cenderung tertutup.

Salah satu kelompok yang menjadi sorotan adalah Ahmadiyah. Kelompok ini meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi atau mujaddid setelah Nabi Muhammad SAW. Keyakinan ini dinilai menyimpang, karena mayoritas umat Islam meyakini Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.

Tak hanya itu, Kemenag juga menyoroti varian lokal dari mazhab Syi’ah yang dikenal sebagai Syi’ah Jamalia. Aliran ini mengalami penyesuaian dengan konteks budaya lokal, sehingga muncul perbedaan dalam praktik keagamaan dibandingkan dengan mazhab Syi’ah pada umumnya. Fenomena pada Non-Muslim
Fenomena serupa juga muncul di lingkungan non-Muslim.

La Sengka menyebutkan adanya kekhawatiran dari sebagian umat Islam terhadap praktik ibadah Kristen Ortodoks.

Hal ini menurutnya, karena gerakan ibadah mereka memiliki kemiripan dengan gerakan salat dalam Islam, seperti ruku’, sujud, dan takbir, meskipun dengan makna dan tujuan yang berbeda.

“Kemiripan bentuk ibadah ini bisa membingungkan generasi muda Muslim jika tidak ada edukasi yang jelas dan berkelanjutan,” pungkasnya.(*)

Komentar