Pedagang dan Pembeli Keluhkan Tumpukan Sampah di Pasar Tradisional Sula

KEPULAUAN SULA –Tumpukan sampah di pasar tradisional Kabupaten Sula menjadi keluhan utama bagi para pedagang dan pembeli.

Pasalnya, bau tak sedap dan penyempitan jalan akibat sampah yang tidak terangkut selama empat hari terakhir mengganggu kenyamanan dan aktivitas jual beli.

Menurut pantauan media Publiknesia.com, sejumlah titik penumpukan sampah belum diangkut oleh Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sula. Senin ( 4/8/2025)

Umar (46), salah satu pedagang, mengungkapkan bahwa kondisi ini sangat mengganggu.

“Sampah sampai di jalan jadi sempit dan juga banyak hewan ternak (sapi) yang sering berkeliaran di seputaran pasar,” ujarnya.

Keluhan serupa disampaikan oleh Eta (38), pedagang lainnya, yang mengaku omsetnya menurun drastis.

“Lihat sendiri kondisinya seperti ini, bau busuk, pembeli pun malas ke seputaran sini kalau keadaan seperti ini,” katanya.

Padahal, para pedagang mengaku setiap hari mereka membayar retribusi sebesar Rp 2.000 hingga Rp 5.000 kepada Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) serta Dinas Perhubungan.

“Sehari kami bayar retribusi mulai dari pas masuk hingga berbagai macam iuran,” kata Umar.
Para pedagang berharap agar dinas terkait, khususnya DLH, segera mengambil tindakan untuk mengatasi masalah sampah ini.

“Kami sebagai pedagang menilai jika tidak segera diatasi situasi ini akan merugikan kedua belah pihak,” tambah Eta.

Hingga berita ini ditayangkan, upaya konfirmasi wartawan kepada Kepala DLH belum membuahkan hasil.(*)

Komentar