“Tikong harus bebas banjir. Tidak bisa dibiarkan seperti ini terus-menerus,” ujar Sashabila Mus saat meninjau banjir di Desa Tikong, Kecamatan Taliabu Utara, Sabtu (22/03). Tatapannya serius, menelusuri pemukiman yang tergenang air bercampur lumpur.
Sejak Jumat (21/03) sore, hujan deras mengguyur wilayah tersebut, membuat drainase tak mampu menampung aliran air. Dalam hitungan jam, rumah-rumah terendam, jalanan berubah menjadi sungai kecil, dan warga hanya bisa pasrah.
Berjalan hati-hati di tengah genangan, Sashabila menyapa warga yang rumahnya terdampak. Beberapa ibu rumah tangga masih sibuk menyelamatkan perabotan, sementara anak-anak bermain di genangan tanpa menyadari bahaya kesehatan yang mengintai. Bau air kotor bercampur lumpur begitu menyengat.
“Drainase di sini sangat terbatas, ditambah topografi tanah yang sulit mengalirkan air langsung ke laut. Jika tidak diperbaiki, banjir akan terus terjadi,” tegas Sahsa
“Setiap tahun kami dilanda banjir, tapi belum ada perubahan yang berarti. Kami butuh pemimpin yang hadir di tengah masyarakat dan memberikan solusi nyata,” katanya.
Sashabila menyatakan, perbaikan drainase harus menjadi prioritas. Namun, ia juga menyadari bahwa pelebaran drainase memerlukan kerja sama dengan warga, terutama dalam hal penghibahan lahan.
“Pemerintah harus beri kejelasan soal kompensasi agar warga bersedia menghibahkan lahannya demi kepentingan bersama,” tambahnya.
Disamping itu, politisi muda ini juga menyoroti persoalan sanitasi yang memburuk akibat banjir. Bau tak sedap mulai tercium dari beberapa sudut desa, menandakan potensi masalah kesehatan yang lebih besar.
“Sanitasi juga harus diperhatikan, apalagi akses layanan kesehatan di Taliabu masih terbatas,” ungkapnya.
Di tengah perbincangan, seorang ibu muda dengan balita di gendongannya menyuarakan keresahan.
“Kami takut anak-anak jatuh sakit. Air ini kotor, tapi mau bagaimana lagi? Kami hanya bisa berharap ada solusi,” ucapnya lirih.
Kunjungan Sashabila ke Tikong disambut baik oleh warga. Mereka berharap kunjungannya bukan sekadar seremonial, melainkan langkah awal menuju perubahan nyata.
“Kami ingin pemimpin yang bisa membawa perubahan bagi Tikong. Kami yakin Ibu Sashabila dapat mewujudkan itu,” ujar Samsudin, tokoh masyarakat setempat.
Saat Sashabila berpamitan, langit masih tampak mendung, seakan memberi peringatan bahwa hujan bisa turun kapan saja. Namun, di mata warga Tikong, harapan mulai tumbuh bahwa suatu hari nanti, desa mereka tak lagi menjadi langganan banjir.(Redaksi)









Komentar