KABUPATEN SULA – Puluhan warga Desa Waibau, Kecamatan Sanana, Kabupaten Kepulauan Sula, Maluku Utara, kembali mendatangi Markas Kepolisian Resor Kepulauan Sula, Kamis (18/12/2025).
Mereka menuntut kepolisian segera menuntaskan kasus pengeroyokan yang menimpa tiga warga Desa Waibau di Desa Soamole pada awal pekan ini.
Pasalnya, hingga hari keempat pascakejadian, aparat kepolisian belum menetapkan tersangka maupun mengamankan terduga pelaku. Kondisi ini memicu kekecewaan warga yang menilai proses hukum berjalan lamban.
Perwakilan warga Desa Waibau, Juanda Kaunar, dalam orasinya menyatakan bahwa Pemerintah Desa Soamole terkesan tidak kooperatif dalam membantu penyelidikan. Ia mendesak penyidik untuk segera memanggil Kepala Desa, Sekretaris Desa, hingga Ketua Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Soamole.
“Kasus pengeroyokan ini terjadi di wilayah Desa Soamole, tetapi sampai hari ini belum ada satu pun pelaku yang ditetapkan sebagai tersangka. Kami sangat menyesalkan hal ini,” ujar Juanda di sela-sela aksi.
Juanda menduga ada upaya sistematis dari perangkat desa setempat untuk menutupi informasi terkait identitas para pelaku. Ia memperingatkan bahwa ketidakpastian hukum dapat memicu ketegangan antarwarga yang lebih luas.
“Kami berharap pemerintah desa bersikap terbuka dan tidak melindungi pelaku. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memicu konflik lanjutan yang tidak diinginkan,” tambahnya.
Sekedar informasi, Insiden pengeroyokan tersebut terjadi pada Senin (15/12/) sekitar pukul 03.00 WIT. Saat itu, sedang berlangsung acara resepsi pernikahan di Desa Soamole.
Tiga warga Desa Waibau yang menjadi korban adalah, Muhlis Buamona (41), Musfarit Gay (33) dan Hasrun Wanci (32)Salah satu korban, Musfarit Gay alias Oky, mengungkapkan rasa frustrasinya atas lambatnya respons penegak hukum. Ia menduga keberadaan para pelaku sengaja disembunyikan.
“Sudah lima hari sejak kejadian pengeroyokan terhadap saya dan teman-teman, namun sampai sekarang para terduga pelaku belum juga ditahan,” kata Oky.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Polres Kepulauan Sula belum memberikan keterangan resmi terkait kendala dalam pengejaran para pelaku maupun rencana pemanggilan perangkat Desa Soamole sebagaimana yang dituntut oleh warga. (*)







Komentar