JAKARTA – Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menilai fenomena ‘inflasi pengamat’ yang disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya memiliki dasar yang kuat.
Ia menyebut, saat ini muncul banyak pihak yang mengaku sebagai pengamat, namun justru melontarkan kritik yang tidak konstruktif terhadap pemerintahan Prabowo Subianto.
“Namun demikian tidak semua kritik bagus, ada juga kritik yang tidak membangun dan bahkan merusak alias toxic,” kata Habiburokhman dalam keterangannya, Selasa, 14 April 2026.
Menurutnya, sebagian pihak yang mengatasnamakan pengamat justru menyebarkan propaganda, kebohongan, hingga ujaran kebencian.
“Bisa saja motif mereka hanyalah merebut kekuasaan baik dengan jalur konstitusional maupun dengan jalur inkonstitusional,” ungkapnya.
Politisi Partai Gerindra itu mengingatkan masyarakat agar tidak menggeneralisasi semua kritik sebagai sesuatu yang buruk. Namun, ia juga menekankan agar tidak langsung menganggap seluruh kritik sebagai hal yang positif.
“Kritikan yang bagus kita tindak lanjuti, sementara kritikan yang tidak bagus kita sikapi dengan edukasi kepada rakyat agar tidak menjadi racun bagi demokrasi,” jelasnya.
Ia turut menyinggung kritik yang disampaikan oleh Saiful Mujani terhadap Presiden Prabowo yang dinilai perlu dikritisi lebih lanjut.
“Kita tahu bahwa Saiful Mujani adalah elite politik kaya raya yang selama ini berseberangan dengan Presiden Prabowo, termasuk pada Pilpres lalu. Apakah kritik Saiful Mujani murni disebarkan untuk perbaikan, atau hal tersebut hanya operasi politik partisan,” imbuh dia.
Habiburokhman juga menyatakan bahwa Presiden Prabowo memiliki mandat selama lima tahun untuk menjalankan program pemerintahannya. Ia menegaskan bahwa evaluasi terhadap kinerja pemerintah seharusnya dilakukan melalui mekanisme demokrasi, yakni Pemilu 2029.
“Yang jelas Presiden Prabowo berkomitmen menjaga demokrasi, Itulah sebabnya, hingga saat ini setelah hampir 1,5 tahun Presiden Prabowo berkuasa, tidak ada seorang pun warga negara Indonesia dijatuhi hukuman karena mengkritik atau bahkan menghina Presiden Prabowo,” tuturnya.
Sebelumnya, Seskab Teddy Indra Wijaya menyoroti fenomena banyaknya pengamat yang dinilai tidak menyampaikan data sesuai fakta. Ia menilai, saat ini banyak pengamat yang berbicara di luar bidang keahliannya.
“Sekarang ini, ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi, banyak sekali pengamat. Ada pengamat beras, tapi dia background-nya bukan di situ. Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu, datanya tidak sesuai fakta, datanya keliru,” kata Teddy kepada wartawan di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Jumat, 10 April 2026.
Ia juga menyebut bahwa sebagian pengamat tersebut telah lama berupaya memengaruhi opini publik, bahkan sejak sebelum Prabowo menjabat sebagai presiden.
“Tapi faktanya apa? Faktanya lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo, tidak percaya mereka. Nah, itu adalah bukti nyata kepercayaan publik, bukan suatu asumsi ya,” imbuhnya.



















Komentar