KEPULAUAN SULA – Menjelang pelaksanaan Kongres IV Himpunan Pelajar Mahasiswa Sula (HPMS) yang dijadwalkan berlangsung pada 11–12 Januari 2026 di Kota Ternate, desakan untuk melakukan regenerasi kepemimpinan mulai menguat.
Salah satu tokoh senior asal Kabupaten Kepulauan Sula, Rusmin Latara, menegaskan bahwa organisasi ini harus kembali ke marwahnya sebagai wadah pelajar dan mahasiswa.
Rusmin mengingatkan bahwa HPMS lahir dari semangat kaum terpelajar, sehingga tidak relevan jika terus didominasi oleh peran senior yang ingin bernostalgia.
“HPMS lahir dari semangat pelajar dan mahasiswa. HPMS bukan tempat katorang (kita) bernostalgia dengan masa lalu. Kongres IV ini adalah ujian keberanian moral,” tulis Rusmin.
Rusmin secara terbuka mempertanyakan kesiapan para senior untuk memberikan tongkat estafet kepemimpinan kepada generasi muda.
Ia mengkhawatirkan adanya kecenderungan senioritas yang justru menghambat dinamika organisasi.
“Apakah katorang yang tua-tua ini rela memberi ruang kepemimpinan kepada generasi muda, atau justru mempertahankan organisasi pelajar-mahasiswa ini agar tidak lagi dipimpin oleh pelajar dan pemuda?” lanjutnya.
Menurutnya, meski posisi senior wajib dihormati sebagai pembimbing, namun mandat kepemimpinan tetap harus dipegang oleh kaum muda demi menjaga nilai perjuangan organisasi.
Pernyataan Rusmin tersebut memicu diskusi hangat di media sosial. Pantauan di kolom komentar menunjukkan dukungan luas dari kalangan pemuda Sula.
Komentar yang lebih tajam datang dari akun Alex Sander, yang menilai para senior seharusnya cukup berperan di balik layar.
“Benar sekali abangku. Yang sudah tua-tua itu jadi motivator saja, seng (tidak) cocok jadi pengurus lagi,” tulisnya.
Di sisi lain, dukungan juga datang dari sesama senior. Akun Moyoga memberikan catatan penting mengenai kriteria pemimpin muda yang layak dipilih nanti.
Ia menekankan bahwa junior yang memimpin harus memiliki integritas intelektual, visi yang jelas, serta mampu menjembatani kepentingan Sula di kancah nasional.
“HPMS akan hidup jika regenerasi berjalan. Tanpa regenerasi, HPMS hanya menjaga nama, bukan nilai perjuangan. Kongres harus menjadi momentum regenerasi, bukan nostalgia,” tutup Rusmin dalam unggahannya.(*)







Komentar